Strategi Diversifikasi & Manajemen Investasi

Hi readers, hari ini saya akan kembali bahas tentang lanjutan artikel tentang investasi. Ramadhan kemarin, kalo readers masih inget, pada artikel Pensiun Dini dengan Reksa Dana dan menjanjikan bakal bahas lagi tentang gimana sih diversifikasi investasi. Meskipun posting yang sekarang kelamaan, tapi gapapa ya?😀 Oh ya, sekali lagi saya sampaikan, materi ini saya dapat dari Bapak Eko P. Pratomo dalam seminar yang diadakan salah satu media massa investasi.

Apa sih maksudnya diversifikasi investasi? Diversifikasi atau penyebaran investasi adalah memilih beberapa produk investasi sekaligus. Diversifikasi yang terwujud dalam portofolio ini dapat mengurangi risiko (tetapi tidak dapat menghilangkan). Perlu ditanamkan dalam pemikiran kita bahwa tidak ada investasi yang 100% aman! Semua berisiko, namun memiliki profil risiko yang berbeda-beda. Dalam artikel Reksa Dana (Mutual Fund), dijelaskan mengenai risiko-risiko dalam RD. Nah, masing-masing jenis RD ini juga beda lagi profilnya.

  • RD Pasar Uang/RD Pendapatan Tetap tergolong sebagai RD dengan risiko rendah/menengah, dan cocok untuk investasi jangka pendek/menengah, yaitu 3-5 tahun.
  • RD Campuran tergolong sebagai RD dengan risiko menengah, sehingga cocok untuk investasi jangka menengah, yaitu 5-10 tahun.
  • RD Saham adalah jenis RD dengan risiko paling tinggi, dikarenakan fluktuasi harga saham yang memang sering terjadi. Oleh karena itu, untuk mengimbangi fluktuasi tersebut, RD Saham cocok untuk investasi jangka panjang di atas 10 tahun.

Selain RD, ada juga produk investasi lain misalnya deposito. Deposito disini hampir sama dengan jika kita berinvestasi pada RD Pasar Uang. Dalam RD Pasar uang, investasi kita juga akan dimasukkan pada deposito, SBI, atau surat hutang dengan jatuh tempo dibawah 3 tahun. Jadi profil risiko deposito cenderung identik dengan RD PU, yang membedakan adalah tingkat likuiditasnya. Deposito pada umumnya memiliki jangka waktu tertentu (3, 6, 12, 24 bulan) sehingga apabila kita mencairkannya sebelum jatuh tempo, maka akan dikenakan penalti. Sedangkan pada RD PU, sifatnya lebih bisa dicairkan kapan saja karena tidak ada penalti untuk jangka waktu tertentu. Namun RD PU juga ada kemungkinan lamanya pengurusan redemption dari pihak manajer investasi.

Ada satu lagi produk investasi yang paling banyak penggemarnya. Yak, emas! Banyak orang yang menyukai produk satu ini karena melihat harga emas dulu dan sekarang yang begitu jauh perbedaannya. Sekarang yang lagi nge-trend banget adalah Logam Mulia (LM), yaitu batangan emas keluaran PT Antam. 5 tahun belakangan ini, harga emas melejit dahsyat seiring dengan kepopuleran LM. Emas adalah produk investasi yang unik. Emas tidak terpengaruh dengan fluktuasi saham (meskipun bisa juga terpengaruh) karena memiliki pola fluktuasi tersendiri. Banyaknya demand (permintaan) emas, cadangan emas dunia, atau likuiditas emas itu sendiri yang mempengaruhi fluktuasinya. Tapi, saat ini saya belum akan membahas lengkap mengenai investasi emas, panjang cuy! Ini aja uda mayan panjang paragrafnya.😀

Jadi, saya bahas dulu ya diversifikasi pada reksa dana? Setuju kan? Yuk mareee….🙂 Kenapa sih kita perlu diversifikasi aset? Pada paragraf sebelumnya saya sudah singgung tentang pengurangan risiko investasi, tapi kali ini mari kita telusuri lebih dalam. Berikut ini adalah perbandingan annualized return pada 3 jenis produk investasi dalam jangka 10 tahun (2001-2010) :

Sumber : PT BNP Paribas Investment Partners (Eko P. Pratomo)

Dari data di atas, dapat kita lihat return dari masing-masing produk. Untuk SBI atau deposito, dari bunga tahunan itu, masih dikenakan pajak 20%, sehingga return-nya menjadi sekitar 5-6% p.a. Masyarakat awam masih banyak yang hanya mengetahui deposito sebagai sarana investasi karena mudah dan kita menyerahkan semuanya ke bank. Namun ternyata, bunga deposito masih jauh di bawah tingkat inflasi tahunan. Dengan demikian, kita perlu melirik produk investasi lain yang memiliki risiko sekaligus return yang lebih tinggi. Lalu, bagaimana harapan anda tentang imbal hasil dari investasi Anda? Berapa ekspektasi atas tingkat suku bunga atau kinerja investasi masing-masing instrumen dalam 10 tahun ke depan (2011-2010)?

  • Inflasi : 6% ?
  • SBI : 6,5% ? (inflasi + 0,5%)
  • Time Deposit : 7% ? (inflasi + 1% risk premium)
  • Obligasi Pemerintah : 8% ? (TD + 1% risk premium)
  • Obligasi Korporasi : 10% ? (Obligasi Pemerintah + 1% risk premium)
  • Saham : 16% (Obligasi Korporasi + 6% risk premium)

Ilustasi : Eko P. Pratomo : angka-angka di atas hanya merupakan ilustasi dan bukan merupakan indikasi atas kinerja masa mendatang.

Dari ilustrasi di atas, kita juga bisa menentukan berapa besar risk premium yang kita harapkan. Risk premium itu sendiri adalah selisih imbal hasil yang diharapkan dengan mengambil risiko terhadap instrumen lain dengan risiko lebih tinggi. Jadi misal, dengan kita mengambil instrumen saham, maka kita akan mendapat risk premium sebesar 6% dibanding dengan jika kita menggunakan obligasi korporasi.

Don’t put all your eggs in one basket. – Don’t risk your money at all once.

Lanjut yuk bahas salah satu perluasan dari diversifikasi. Kali ini, saya akan concern ke investasi dan rebalancing. Salah satu strategi untuk mengurangi risiko investasi sebagai pengembangan dari diversifikasi adalah proses rebalancing. Intinya, rebalancing adalah strategi dimana jika pada awalnya kita mengalokasikan sejumlah dana kita ke instrumen investasi jangka panjang (saham) dan jangka pendek (deposito/obligasi), kemudian dengan pertimbangan kondisi pasar, kita mengubah-ubah jumlah investasi kita. Coba disimak ilustrasi rebalancing berikut ini :


Sumber : PT BNP Paribas Investment Partners (Eko P. Pratomo)

Apa sih maksudnya ilustrasi di atas? Mungkin uda banyak readers yang paham, tapi saya akan mencoba menjelaskan bagi yang belum paham ya, hehehe😛.

  • (a) Kondisi inisial saat kita investasi, misal kita memiliki uang senilai 20 juta, maka 10 juta diinvestasikan ke instrumen jangka panjang, dan 10 juta masuk ke instrumen jangka pendek/menengah.
  • (b) Jika terjadi suatu kondisi dimana harga saham naik sedangkan instrumen short/medium term cenderung tetap, maka nilai investasi kita pada instrumen saham akan meningkat. Misalnya investasi saham kita meningkat 100% (sorry, ilustrasi ekstrim, biar gampang ngitungnya :P), dari 10 juta menjadi 20 juta. Maka proporsi investasi kita tidak lagi 50:50, melainkan menjadi 66,6% saham (20 juta dari 30 juta nilai investasi) dan 33,3% time deposit/bond (10 juta dari 30 juta nilai investasi).
  • (c) Untuk menyeimbangkan nilai investasi, maka dilakukanlah rebalancing dengan memindahkan sejumlah nilai pada instrumen long term ke instrumen short/med term. Dalam keadaan seperti kondisi (b), maka kita dapat memindahkan 5 juta dari saham ke TD/Bond. Sehingga proporsinya kembali 50:50 (15 juta long term, 15 juta short term).
  • (d) Pada posisi ini, saat nilai investasi kita 15 juta : 15 juta, misalkan terjadi penurunan harga saham sebesar 50% (kalo turun ekstrim separo aja yak? :P), sedangkan instrumen short/medium term cenderung tetap.
  • (e) Dari kondisi demikian, berarti nilai uang kita di saham akan menurun menjadi 7,5 juta. Dengan demikian prosentasi portofolio kita juga akan berubah, yaitu instrumen long term sebesar 33,3% (7,5 juta dari total investasi 22,5 juta) dan short/med term menjadi 66,6% (15 juta dari total investasi 22,5 juta)
  • (f) Untuk kembali menyeimbangkan portofolio, kita dapat kembali melakukan rebalancing dengan memindahkan sebagian uang kita pada investasi short/medium term ke instrumen long term. Untuk mencapai proporsi 50:50 lagi, berarti kita memindahkan 3,75 juta dari TD/bond ke instrumen saham. Sehingga nilai investasi kembali seimbang, dengan 11,25 juta pada instrumen long term dan 11,25 juta pada instrumen short/med term.

Ilustrasi prosentase di atas sebenernya sih bisa kita atur sendiri. Tergantung kebutuhan dan profil risiko masing-masing investor. Inget juga investasi kita tujuannya apa. Bisa aja kalo emang investasi kita pengen dimaksimalkan untuk jangka panjang, artinya prosentase untuk instrumen long term (saham) bisa lebih dari 50% sebagai initial contribution. Namun sebaliknya, jika kita masih merasa ragu, atau memang kebutuhan jangka panjang dirasa tidak banyak, kita bisa mengurangi proporsinya hingga di bawah 50%. Kayak kata Mba Wina yah, “Tujuan Lo Apa?”😉

Gimana, uda jelas belum tentang gimana diversifikasi dan manajemen investasi? Ato malah makin pusing? Hehe😀. Gitu aja deh ya, maaf kalo banyak yang kurang jelas ato bahkan ada kesalahan, feel free to give me some advices🙂. Seneng deh bisa bagi-bagi pengetahuan, readers juga boleh banget loh nambahin, jangan ragu buat kasi komen ya. See you next time.

About dinipus

a big, big, big dreamer

Posted on September 8, 2011, in Finance. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: