Memahami Karakter Saham pada Bursa

Investasi saham ibarat masuk ke hutan belantara yang di dalamnya terdapat berbagai jenis flora. Untuk itu, sangat perlu kita mengklasifikasi tumbuhan mana yang bisa dimakan, sebagai obat, atau justru beracun? Sekedar catatan, hingga Oktober 2011 terdapat 432 emiten yang mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI). Jangan sampai investasi Anda justru membawa kerugian karena salah pilih. Untuk menghindari kekecewaan itu, sangat perlu untuk memilih saham dengan cermat.

Pada dasarnya saham di BEI diklasifikasikan ke dalam beberapa golongan sebagai berikut :

1. Saham Bluechip

Dalam permainan poker, keping pertaruhan dengan nilai yang paling tinggi adalah keping biru. Dari sinilah asal muasal “bluechip” untuk saham-saham unggulan. Apa ciri-ciri saham berkualitas baik?

  • Perusahaan penerbit dikenal secara nasional
  • Memiliki kondisi keuangan yang sehat dan mapan
  • Memiliki tim manajemen yang solid
  • Menghasilkan produk/jasa dengan kualitas tinggi dan diterima secara luas
  • Memiliki pertumbuhan laba yang baik
  • Rajin membagikan dividen secara berkala kepada investor
  • Memiliki kapitalisasi pasar yang besar (>40 triliun rupiah)

Selain ciri-ciri di atas, pada umumnya saham bluechip ini banyak diminati sehingga harganya cenderung lebih mahal daripada saham-saham lain. Sehingga untuk memiliki saham jenis ini, investor perlu merogoh kocek lebih dalam. Namun tidak dapat juga diklaim bahwa saham yang harganya di atas rata-rata merupakan saham bluechip. Diperlukan analisis lebih lanjut seperti yang dipaparkan poin-poin di atas. Saham jenis bluechip ini cocok untuk investor jangka menengah-panjang.

2. Saham Dividen

Saham kategori ini merupakan saham-saham yang selalu konsisten dalam membagi dividen dalam jangka panjang. Saham ini sering juga disebut income stock. Selain itu terdapat juga ciri-ciri lain sebagai berikut :

  • Memberikan dividen yang relatif tinggi
  • Secara umum perusahaan tersebut tidak membutuhkan ekspansi yang besar (mature)
  • Beberapa saham dividen juga merupakan saham bluechip
  • Memiliki likuiditas yang tinggi dan turn over yang besar

Namun dalam berinvestasi ke saham jenis ini, investor perlu mencermati karakteristiknya terutama soal dividen payout ratio dan dividen yield ratio. Besar kecil dividen payout ratio dan dividen yield mencerminkan tingkat keuntungan yang diperoleh investor. Jika dividen payout ratio besar, tetapi dividen yeild kecil, maka tidak akan menguntungkan investor.

3. Saham Defensif

Saham jenis ini adalah saham yang tak memiliki sensitifitas terlalu besar alias tidak terlalu terpengaruh akan kondisi yang terjadi saat ini atau siklus ekonomi. Ciri-ciri yang dapat diidentifikasi sebagai saham defensif adalah :

  • Bisa jadi perusahaan penerbit saham memproduksi barang/jasa yang tetap dibutuhkan masyarakat dalam kondisi apapun (makanan, obat, rokok, barang konsumer)
  • Nilainya tidak akan terlalu terkoreksi ketika kondisi market turun sekali pun
  • Memiliki pergerakan harga saham yang relatif stabil dibanding jenis saham lain

Dengan karakteristik seperti di atas, jenis saham defensif ini cocok untuk investor yang bersifat risk-averter, yaitu mereka yang tidak menyukai risiko tinggi.

4. Saham Second Liners

Saham second liners atau saham lapis dua ini merupakan saham dari perusahaan yang secara fundamental baik, namun masih dalam prospek berkembang. Berikut ini ciri-cirinya :

  • Memiliki kapitalisasi sedang, yaitu berkisar 1-40 triliun rupiah
  • Nilai saham sangat fluktuatif
  • Potensi keuntungan cukup bagus dengan memanfaatkan fluktuasi harga

Dengan karakteristik yang fluktuatif tersebut, tidak heran saham jenis ini banyak diburu oleh investor jangka menengah.

5. Saham Third Liners

Saham yang masuk dalam klasifikasi third liners ini pada umumnya merupakan saham dari perusahaan yang baru melakukan go public atau initial public offering (IPO). Berikut ciri-cirinya :

  • Kapitalisasi pasar kecil
  • Harga saham cenderung tidak mahal, sekitar di bawah Rp 1000 per saham
  • Fluktuasi harga saham sangat tinggi
  • Harga saham mudah bergerak jika ada suatu isu atau rumor yang berkaitan dengan kinerja atau rencana bisnis emiten

Dengan risiko yang cukup tinggi ini, saham jenis “gorengan” ini cocok untuk mengeruk keuntungan dalam waktu singkat. Pada umumnya investor hanya menahan saham dalam tempo 2-3 hari atau paling lama seminggu kemudian menjualnya kembali.

Referensi : Tabloid Kontan edisi khusus November 2011

About dinipus

a big, big, big dreamer

Posted on November 11, 2011, in Finance. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: